Judulnya mungkin ga nyambung. Gak apa-apa
Oke, masuk kepada apa yang ingin ku tuliskan hari ini.
Pada dasarnya. Anak itu terlahir sesuai dengan fitrahnya. Yaitu anak yang baik. Tidak ada anak yang nakal, bandel, atau pembangkang, dsb. Hanya saja, pola asuh atau lingkungan yang bisa merubahnya menjadi demikian.
Tanpa diberitahu. Anak akan mengerti, siapa orang tuanya. Begitupun, tanpa di beritahu. Anak akan mengerti, siapa yang berprilaku baik atau tidak kepadanya.
Ketika sedikit saja, membentak atau memerintahkannya dengan cara yang kasar. Akan membuatnya mengingat dan sulit melupakan kejadian itu. Ia akan cenderung tak menurut dan bahkan memberontak. Beda, dengan sapaan yang hangat, dan perintah yang menunjukkan kasih sayang. Ia akan merespon dengan baik. Dan melakukannya dengan senang hati.
Mungkin benar, jika anak selalu disayang. Ia akan manja. Tapi sangat benar, jika anak tak disayang. Ia bisa liar. Bagiku, anak manja itu hal yang wajar. Fitrahnya, memang begitu. Anak sangat senang disayang dan diperhatikan. Jujur saja, kita yang dewasa. Masih terkadang ingin bermanja dengan orangtua. Walau terkadang, sudah malu untuk mengungkapkannya.
Manja. Itu gak apa-apa. Manja yang kalau kita lihat, selalu terkonotasi dengan anak yang selalu dituruti kemauannya. Dan tak pernah disalahkan. Iya, itu manja yang salah. Manjanya anak bisa kita turuti kemauannya, apabila itu baik untuknya. Jika itu tidak baik, atau malah memberi pengaruh buruk padanya. Tidak perlu dituruti. Beritahu perbedaan antara yang mana yang benar dan mana yang salah. Beritahu pengaruhnya apa. Beriatahu bahwa semua ada akibatnya.
Anak adalah anugerah Tuhan. Tuhan menitipkan untuk didik dan disayangi. Bukan dibentak atau dikasar. Anak itu unik bagiku. Yang menurut kita terkadang sudah benar mendidiknya, tapi ternyata masih salah.
Aku memang belum pernah punya anak. Bahkan belum pernah merasakan mendidik anak secara langsung. Aku hanya pernah, membersamai anak-anak dari seorang ibu melahirkan sampai ia beranjak usia 5 tahun. Aku merasakan, begitu tidak mudahnya, peran seorang ibu dalam mengasuh. Ya, sangat-sangat menguras hati dan pikiran. Tapi, sosok ibu tetap tersenyum. Walau rumah yang sudah bersih, kotor kembali, walau sudah mencuci, tapi numpuk lagi. Walau mata menghitam, karena tangisan yang membuat terbangun di malam hari, walau, walau, walau, walaupun itu membuat semuanya lelah. Tapi dalam menjaga buah hatinya,ia tak pernah goyah.
Aku saat ini, masih berdiri menjadi sosok anak. Anak yang pernah kecil dan sekarang sudah tumbuh dewasa. Apa yang ku tulis ini. Adalah apa yang ku rasakan, dan apa yang ku lihat, sebagian dari apa yang aku dengar. Ya, mungkin tak semua yang ku ungkapkan ini benar. Opini ini, ku ungkapkan, hanya untuk mengingatkan ku kelak. Bahwa kelak, ketika Tuhan menganugerahkan anak kepadaku. Aku bisa, bisa mendidiknya dan menjaganya dengan baik. Aku tak ingin, melihat anakku, tumbuh dari masa kecil yang tidak aku inginkan, yang pernah ada padaku.
Era ini terbilang sudah baik. Zaman ini, cukup banyak yang bisa kita lakukan dalam memberikan pola asuh yang baik kepada anak. Walau memang, di akhir zaman ini. Kita akan lebih ekstra dalam mendidik.
Yaa.. Selama Tuhan masih memberimu nafas. Selama itu pula, jangan pernah merasa puas.
Terlebih, ilmu tentang anak, yang sampai kapanpun, kita akan dituntut untuk belajar terus dan menerus.
Mungkin semua orang belum tentu memiliki anak. Tapi, semua oarang pasti merasakan jadi anak. Apapun yang pernah kamu lewati, jadikan semuanya pelajaran. Pola asuh apapun yang pernah kamu terima. tetaplah bersyukur. Karena garis hidup orang tidak sama, ada yang perlu berjuang ekstra. Ada yang tidak. Tapi gak pernah ada kata tak berharga bagi anak yang sudah dilahirkan. Allah pilihkan anak yang terlahir di bumi berarti anak itu yang terbaik untuk berada di bumi.
Jadilah anak yang bermanfaat. Agar kelak memilki anak. Bisa menjadi orangtua yang bermanfaat :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar