Kamis, 19 November 2020

HILANG

 

Separuh raga sempat utuh.

Lewat pesan sanak mengabarkan cerita.

Sempat tertakjub, namun bergulir gundah.

Aku tak dapat memahami, apa yang terjadi, pada keesokan nanti.

 

Detik tak pernah enggan berhenti.

Terus melaju, dengan egois.

Walau belum ada kata siap dalam hati.

Tapi, demi membahagiakan raga agar utuh.

Tak segan untuk siap dan tegap berdiri.

 

Hari demi hari, terus tak pernah enggan menampakkan cerita pada mentari.

Harap sudah membumbung tinggi, namun Tuhan tak menghendaki.

Sudah rela melepas. Tak lagi raga menyaru pada bayangan palsu, yang tak pasti.

 

Sesekejap, aku tak menyadari.

Perjalanan yang terlanjur terpilih, menghapus jejak, menghapus goresan.

Hilang... terbawa kecerian, terbawa hamparan melodi cinta-Nya, terbawa khusyuknya berlabuh pada teduhnya rinai, terbawa pada riuhnya kisah yang kasih.

 

Kini, hilang. Mudah tersingkap, seperti abu. Terbawa, bersama hilangnya nestapa.

Kini, hilangnya berpindah. Seperti kau hilang di balik pintu, saat semua  telah usai.

 

Semua, adalah skenario.

Aku hanya aktor di dalamnya, yang siap menerima skenario selanjutnya.

Kalau nanti hilang lagi,

Aku yakin, skenarioNya, tak akan membuat aku, patah, hati

 

Sajakku.Puisi.

@evatriyuana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Penantian

_Detik boleh berlalu, dalam rasa yang mengatakan; tiada lagi yang bisa membuatku yakin selainnya_  Perjalanan yang mudah, walau tak semudah ...