Dalam batas pagar besi hitam berkelok pemisah,
di antara dua sisi kanan dan kiri.
Di saat lelap menyergap mata,
terpagar lelap kesunyian gelap.
Panggilnya memantul hingga getaran ossicles memperkuat dan tertahan.
Aku mulai bertanya pada ossicles, mengapa kau tak pernah melupakan suara itu?
Ia tak menjawab apa-apa.
Ossicles hanya mentransfer jawaban ke kedua bagian rahang pipiku.
Hingga membuatku, menarik kedua masing-masing pinggir bibirku secara bersamaan.
Hahh..
Oh yaa.. Aku mengerti Ossicles.
Tiada suara termerdu di dunia, selain suara itu.
Rupanya kau jatuh cinta yaa Ossicles pada suara itu?
Hingga tak pernah lupa,
mengirim gelombang suara yang tertahan di setiap sepertiga sunyi.
Ossicles, kau tahu?
Ia bagaikan humerus,
Bukan sekedar tempat melekat dan alat penghubung ribuan jaringan ligamen yang kekuataannya berlipat-lipat, ia yang ambisinya mengalahkan baja, ia yang kasihnya sampai menjamah saraf tubuh.
Ossicles, kau tahu?
Tanpanya, aku seperti kehilangan humerus.
Tak berdaya, tak dapat menjamah apapun, tak dapat merangkul sisa-sisa kesedihan, tak dapat membalas pelukan kemurungan, aku lumpuh tanpanya.
Ia sumber kekuatan, di setiap lengannya menjuntai ke arahku.
Dan gerakkan lengannya mendekap punggung yang masih sering melewati kata perintah yang ia mau.
Ossicles, Terimakasih telah jatuh cinta pada suaranya.
Jangan pernah tinggalkan atau lupakan suaranya.
Tahanlah suara itu, biarkan ia melekat di gendang telingaku sepanjang kapanpun.
Turuti setiap masuknya suara merdu ibuku Ossicles.
Biar ia selalu menjadi nyanyian kerinduan.
Kapanpun...
dan dimanapun.
Puisi.sajakku
@evatriyuana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar