Di bawah sorot lampu berjarak 2,5 meter dari posisi dudukku. Aku menengadah ke atas. Sorot lampu itu membuat mataku silau. Tak bisa bertahan lama, mataku tak kuat menatap lampu itu. Sekian per detik, Aku cepat membuang pandanganku, menjauhi sorotan lampu itu.
Tanpa tersadar, mataku terpejam dengan refleksnya. Aku menikmati pejaman mataku. Ya, aku memang lelah. Rasanya ingin sebentar saja memejamkan mata.
Hingga pada akhirnya, aku memberikan mataku kebebasan berlama-lama dalam gelapnya pejaman. Aku berpejam sambil tersenyum sebentar. Nyamannnn... sekali rasanya bisa memejamkan mata. Pikirku saat itu.
Aku menenangkan diri. Duduk di tengah keramaian para penumpang, yang juga sama denganku menunggu kabar keberangkatan tiba. Saat itu mungkin banyak yang memperhatikanku.
"Ah biarkan saja. Aku ingin berpejam sebentar". Gumamku lirih.
Dalam hening pejaman, ku coba satukan pikiran. Kok tiba-tiba saja aku teringat masa saat sekolah menengah pertama. Aku teringat memori tentangnya. Teman sekelas waktu aku duduk di kelas VII.
"Ya... Anak itu, Anak spesial" Gumamku dalam hati. Memori ingatanku tentangnya kembali. Anak perempuan yang sering membagi bekal makanannya denganku ketika jam istirahat. Aku yang jarang membawa bekal bahkan mungkin, hampir tidak pernah. Namaku Dewi. Sedangkan Anak baik itu, namanya Ayana. Ayana baik. Tapi banyak juga yang tidak menyukainya. Mungkin karena, Ayana sedikit menyebalkan. Aku akui itu.
Atau mungkin, memang Ayana seperti itu kondisinya. Bisa dibilang, Ayana (Anak Berkebutuhan Khusus).
Saat itu aku tak terlalu mengerti akan ABK. Yang ku tahu, Ayana memang sedikit aneh tingkahnya. Tulisannya tak beraturan dan sangat lama jika diminta untuk menulis. Seperti anak SD yang baru belajar menulis. Aku sangat ingat tentang ini, karena pada masa itu, aku yang sering bertukar buku saat ada pengoreksian tugas dari guru kami. Aku tepat duduk di sebrang kanannya. Dimana Ayana duduk sendiri tak berkawan. Sebrang kiri dan belakangnya, hampir selalu menolak bertukar buku dengannya. Maka paling sering, buku Ayana aku yang mengoreksi.
Walau akhirnya aku sering mengrenyitkan dahiku. Ketika harus membaca setiap kata dan kalimat yang ia tuliskan.
Hari-hari Ayana yang sering sakit, sering tidak masuk sekolah. Sering pula masuk UKS ketika saat pelajaran berlangsung. Kebiasaan Ayana tidak hanya selalu bawa bekal tapi juga bawa minyak angin. Badannya selalu tercium aroma minyak angin. Ayana mudah berkeringat, walaupun saat kondisi cuaca sedang dingin. Terlebih tangannya selalu basah. Ayana yang seperti itu, membuat aku menduga-duga, bahwa Ayana memang kondisinya sedang tidak baik-baik saja.
Ayana sering mengajak aku megobrol ketika jam istirahat. Ayana sering bercerita, kalau Ayahnya sayang sekali dengannya. Ayana juga sedih, banyak teman-teman yang meledeknya, tidak mau bicara dengannya, dan menjauh ketika didekati. Ia pun sering bercerita tentang guru komputer di sekolah yang ia kagumi. Guru komputer, sebut saja Pak Tio. Pak Tio yang paling muda dan gaul di sekolah. Yaa, mungkin itu alasan Ayana menyukai Pak Tio. Bagiku saat itu, hanya bisa bilang "Namanya juga Ayana".
Ayana cukup dekat denganku, walau terkadang, aku pun sering merasa kesal dibuatnya. Dengan kondisinya yang seperti itu, banyak yang tak menyukai Ayana. Maka banyak pula yang meledekku. Hingga Aku sering diledek oleh teman-teman sekelas. Sampai aku dijuluki "Kakaknya Ayana". Hemm.. 😐 Pada saat itu ada rasa sebal saat teman-teman meledekku.
Walau kesal, jengkel, dan sebagainya.
Aku tak pernah tega dengannya. Bagaimanapun juga, Ayana temanku. Aku berusaha tak pedulikan ejekan mereka.
Ayana pernah mengajakku berkunjung ke rumahnya. Perumahannya tidak jauh dengan arah rumahku. Hanya sekali, itupun juga tak sempat masuk ke dalam. Entah, kenapa waktu itu tidak bisa masuk ke dalam rumahnya. Aku hanya sampai pagar, lalu pergi kembali bersama temanku yang lain.
Kenaikan kelas VIII tiba. Ayana dinyatakan tidak naik kelas oleh pihak sekolah. Dan hari itu juga, saat kenaikan kelas. Hari terakhir, aku melihat Ayana.
Saat keluar pagar sekolah, Ayana ternyata menungguku. Ayana yang berdiri tepat sejauh 2 meter dari pagar sekolah.
Ayana yang bersama Ayahnya, yang selalu setia antar jemput dengan motor supra x nya.
Saat aku mendekat.
Ayana menyapaku, lalu bilang.
"Dew, aku mau pindah sekolah".
Cuma kalimat itu yang ia ucapkan.
Saat itu aku cuma diam, mengangguk.
Lalu Ayana pergi dibonceng Ayahnya.
Pok... (Tepukan dari arah belakang)
"Eh.. Dew. Bangun! Udah lama ya nunggunya? Sorry yaa..." Risa datang dari arah belakang. Aku yang terpejam, langsung sontak terbangun.
"Yuk siap-siap... sebentar lagi kereta kita datang." Risa berdiri, lalu membantuku membawakan barang-barang.
"Oh iya Ris. Oke."
Aku berjalan di belakang Risa yang mendahuluiku.
Sepenjang aku berjalan menuju peron.
Aku masih bergumam sendiri.
"Ayana... Entah mengapa aku tiba-tiba mengingatmu. Ayana, aku menyesal saat ini. Mengapa saat itu aku mengabaikanmu, dan tak menjalin komunikasi denganmu. Hingga terputus sampai saat ini. Kalaupun aku mencarimu via media sosial, sepertinya sia-sia saja. Ribuan nama Ayana di media sosial. Akan sulit untuk mencarinya. Berkunjung ke rumahmu pun, Aku sudah lupa yang mana rumahmu. Ayana, tiba-tiba Aku ingin sekali mengetahui kabarmu. Semoga kamu sehat-sehat Ayana. Tumbuh menjadi perempuan dewasa yang shalihah.
Semoga Allah mempertemukan kita kembali, suatu saat nanti."
"Dew... Jangan lama jalannya. Buruan!"
Risa yabg mendahuluiku, memanggil dengan suara yang agak kencang
Dengan refleks, aku berlari menujunya.
"Ayana... Aku akan mencarimu"
Gumam Dewi, sambil berlari.
Cerita Pendek.
Di tulis oleh ✏️@evatriyuana
Kamis, 26 November 2020
Menunggu Keberangkatan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Penantian
_Detik boleh berlalu, dalam rasa yang mengatakan; tiada lagi yang bisa membuatku yakin selainnya_ Perjalanan yang mudah, walau tak semudah ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar