Minggu, 26 April 2020

Harapan Itu Masih Ada


Pernah suatu ketika. Aku merasa jalan yang ku tempuh terasa berat sekali. Terasa ada yang salah, lalu aku menyalahkan diri. Mulai mengutuk diri.

Merasa bahwa aku memang tak mampu. Dan tak akan mampu, sampai kapanpun.

Aku mulai menarik diri dari keramaian, mencari ruang yang sunyi. Mencari celah di antara cahaya, berharap harapan itu masih ada.

Namun semakin lama, cahaya itu makin tenggelam bersama dengan harapan. Semakin redup, menambah kepercayaan diri. Bahwa Tuhan, sepertinya memang tak pernah mentakdirkan jalan ini untukku.

Aku menangis. Berusaha bangkit, hanya karena ingin mereka tersenyum. Hanya karena ingin mereka bangga padaku. Hanya karena, aku ingin mereka bahagia, dengan pembuktian baktiku, di sisa usia mereka yang masih ada.

Aku tetap bertahan, tapi itu ternyata sangat menyakitkan. Jiwaku sudah lunglai, dimakan kemampuan. Lelah yang ku ciptakan, tidak menghadirkan hasil. Malah menjadi-jadi, membuat aku semakin terpuruk.

Begitu diriku menyemangati.

Terus dan terus...
Sampai pada titik jenuh, aku ternyata menyerah. Aku, gagal.

Kegagalan itu menggoreskan luka. Rasa syukurku menghilang. Aku bodoh, iya memang. Tak sepantasnya aku mengkufuri nikmat Nya. Pantas saja, Tuhan membuatku gagal melewati ujianNya.

Dalam tertatih, sembari berusaha bangkit. Aku mencari ruang ketenangan. Dengan merendah dihadapan Nya. Ku ungkapkan keluh kesahku.

Ku gapai cahaya cinta dari Nya. Semakin sadar, berkat kasih Nya. Ku temukan makna kehidupan. Ku teringat akan janji Tuhan dalam firman Nya.

"Bahwa setelah kesulitan, akan ada kemudahan."

Kegagalan yang menyapa. Kini, bukan lagi hal yang ku sesali. Aku mulai menyadari, bahwa ini memang skenario terbaik dari Tuhan. Tuhan ingin memberi pengajaran padaku.

Pengajaran yang terselip pelajaran berharga. Agar raga ini, kelak tak mudah payah. Agar raga ini, kelak akan tangguh. Agar raga ini, kelak harus selalu bersyukur memaknai setiap nikmat Nya. Agar raga ini, kelak menghargai setiap jerih keringat yang dilakukan atas kesungguhan. Agar raga ini, kelak berani melangkah berbuat. Agar raga ini, kelak tak mudah lunglai, walau suatu saat nanti badai kegagalan, bisa jadi menyapa kembali.

Tak ada yang patut untuk disesalkan.
Skenario Tuhan, selalu yang terbaik.
Perjuanganmu dalam bebenah, belum seberapa. Jadi jangan cengeng. Kamu akan temukan hikmah, dibalik apa yang membuatmu kecewa.

Masih ingatkah tentang perjuangan Nabi Nuh 'alaih salam?
Perjuangannya sungguh menyakitkan, berdarah-darah. Namun, hasil yang didapat tak seberapa. Beratus-ratus tahun menyampaikan amanah dari Tuhan. Namun sedikit sekali kaumnya yang turut menjemput hidayah.

Prosesmu, belum sungguh-sungguh.
Prosesmu, masih payah.
Maka jangan sedikit-sedikit merasa lelah. Prosesmu belum ada apa-apa nyah. :)
.
.
@evatriyuana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Penantian

_Detik boleh berlalu, dalam rasa yang mengatakan; tiada lagi yang bisa membuatku yakin selainnya_  Perjalanan yang mudah, walau tak semudah ...