Rabu, 22 April 2020

Rahmat Allah Itu Luas

Mungkin kita sering menemukan orang-orang yang kelihatannya biasa saja. Mulai dari segi penampilan ataupun ilmu. Kemudian tanpa disadari, akhirnya kita merendahkan orang itu. Hingga terbesit di hati, merasa bahwa kita jauh lebih baik dibanding orang itu.

Terkadang, kita terlalu sibuk menilai seseorang dari dzahir-nya (terlihat) saja. Lupa, bahwa rahmat dan kasih sayang Allah itu begitu luas. Bisa jadi, yang terlihat biasa namun begitu luar biasa di mata Allah. Bisa jadi hatinya begitu bersih. Hingga rahmat dan cintanya Allah turun untuknya.

Teringat kisah Uwais Al-Qorniy. Sosok pemuda yang biasa, namun baktinya kepada orangtuanya membuat Allah cinta padanya. Hingga Allah memberitahu pada para malaikat bahwa Allah mencintainya. Akhirnya seluruh penduduk langit pun, menyebut-nyebut namanya dan turut mencintainya.

Uwais Al-Qorniy, sosoknya yang biasa dan tak dikenal oleh banyak penduduk bumi. Namun, begitu terkenal di penduduk langit. Betapa bahagiannya, bila kita berada diposisi Uwais yang dicintai penduduk langit. Sehingga rahmat dan kasih sayang Allah pun senantiasa turun kepada kita.

Kisah ini menjadi renungan. Bahwa, diri ini masih begitu banyak kurangnya. Begitu banyak menyepelekan orang lain, padahal belajar ilmu agama baru setahun dua tahun. Merasa sudah paling baik dengan keadaan saat ini. Merasa Allah akan mencintai diri ini. Aahh..! sungguh masih banyak futurnya, masih munafik, masih belum ada apa-apanya.

Jangan pernah merendahkan seseorang hanya karena pakaiannya yang biasa, ilmunya yang tak seberapa, hartanya yang tak banyak. Karena Allah mencintai dan meridhoi seorang hamba, karena amalan hati yang bersih dan tulus. Yang akan menghasilkan sikap akhlakul karimah.

Bukankah, surga itu didapati atas rahmat dan kasih sayang Nya? Amalan ibadah bukan hal prioritas dan satu-satunya yang dinilai di hadapan Allah.

Ketulusan dan keikhlasan hati yang semata-mata hanya mencari ridho Allah. Maka itu surga bagi Nya.

Ahh...  diri ini masih begitu jauh dari kata taat dan istiqomah. Futur kerap kali melanda. Sungguh diri ini masih munafik! Ah dasar diri ini!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Penantian

_Detik boleh berlalu, dalam rasa yang mengatakan; tiada lagi yang bisa membuatku yakin selainnya_  Perjalanan yang mudah, walau tak semudah ...